Abimana bangkit setelah beberapa saat. Mata gelapnya kini tampak teduh, digantikan oleh sorot kasih sayang dan tanggung jawab yang besar. Ia memberikan waktu pada Tiara untuk membersihkan diri, sementara ia sendiri mengganti pakaiannya. Ia menyingkirkan semua sisa-sisa kegilaan mereka. Tiara keluar dari kamar mandi, sudah segar dan terlihat lebih tenang. Ia mendekati Abimana yang sedang memilah barang. “Sudah lebih tenang, Mas?” bisik Tiara, menggoda dengan tatapan penuh arti. Abimana menoleh, mencium Tiara di kening. “Sangat tenang, Sayang. Tapi sekarang kita harus kembali fokus. Ada Biantara yang menunggu kita di kabin depan, dan ada satu lagi yang tidak sabar melihat Jakarta,” katanya, mengusap perut Tiara yang membesar dengan hati-hati. Mereka berjalan keluar dan langsung menuju l

