Suara teriakan Aruna perlahan memudar, tertelan oleh dengung panjang yang menyiksa di telinga Nayara. Pandangannya mengabur, bukan hanya karena air mata, tapi karena jiwanya seolah ditarik paksa keluar dari raga. Di dalam kepalanya, ribuan suara berbisik serempak, tumpang tindih seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. “Pembunuh.” “Anak pembawa sial.” “Ayahmu mati karena kamu.” “Kamu meninggalkan Revan karena kamu pengecut.” “Kamu tidak pantas bahagia.” Nayara terdiam. Tubuhnya yang tadi gemetar kini mendadak kaku, nyaris seperti patung lilin yang mendingin. Matanya yang sembab menatap lurus ke depan, namun tak ada cahaya di sana. Kosong. Benar-benar kosong. Ia telah jatuh ke dasar depresinya yang paling gelap—sebuah ruang hampa di mana tak ada suara, tak ada rasa, hanya ada

