31

1669 Kata

Setelah hampir satu jam berada di dalam ruangan Aruna, akhirnya Nayara dan Revan keluar dari gedung rumah sakit jiwa itu. Langit mulai berubah jingga. Udara sore terasa lebih sejuk dari biasanya. Nayara berjalan pelan di samping Revan, tangannya masih menggenggam kotak kue yang tadi sempat ia bawa masuk. Meski Aruna hanya memakannya sedikit dan meminta Nayara untuk membawanya kembali, untuknya. Bukan penolakan, Aruna hanya ingin Nayara juga memakannya bersama Revan. Yang pasti hari ini tidak ada teriakan, tidak ada lemparan benda, tidak ada tatapan penuh kebencian. Hanya diam. Dan bagi Nayara, itu sudah lebih dari cukup. Begitu sampai di pelataran tempat parkir, Revan membukakan pintu mobil seperti biasa. “Capek?” tanyanya pelan. Nayara mengangguk kecil. “Tapi nggak seberat biasanya.”

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN