Letizia mempercepat langkahnya. Suara musik waltz di aula perlahan meredup, digantikan oleh gema langkah sepatunya sendiri di atas lantai beton lorong servis yang dingin. Bau parfum mahal yang tadi menyelimutinya kini berganti dengan aroma apek deterjen dan uap panas dari dapur hotel. Jantungnya berdebar sangat keras, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meraba kunci kartu perak di saku gaunnya. Sedikit lagi. Hanya perlu menyeberangi lift ini, dan bebas. Ia sampai di depan pintu lift servis nomor empat. Dengan tangan gemetar, ia menempelkan kartu itu ke sensor. Pip. Pintu lift terbuka perlahan dengan suara mendesis yang terdengar seperti vonis mati di telinganya. Ia sudah bisa melihat pintu lift kargo di depan mata. Namun, baru saja tangannya hendak meraih gagang pintu darur

