Dingin. Itulah hal pertama yang dirasakan Letizia saat kesadarannya merayap kembali. Bukan dinginnya AC ballroom atau lembutnya sutra di ranjang Jourell, melainkan dingin yang menusuk tulang, berbau karat dan air payau. Letizia mengerang kecil. Kepalanya terasa seperti dihantam batu godam. Saat ia mencoba menyentuh keningnya, tangannya tertahan. Ia tersentak, matanya terbuka lebar secara paksa. Ia berada di sebuah gudang tua yang hanya diterangi satu bohlam kuning yang berayun pelan. Kedua tangannya ditarik ke belakang, diikat kuat pada sandaran kursi kayu dengan tali tambang yang kasar. Gaunnya yang indah kini kotor oleh debu, kontras dengan pergelangan tangannya yang mulai memerah. "P-paman?" suara Letizia parau, tenggorokannya terasa seperti terbakar. Dari kegelapan di depannya, ter

