Dunia di sekitar Jourell mendadak hampa. Suara bising rumah sakit, tangisan Serena, dan derap kaki perawat seolah tersedot ke dalam lubang hitam yang hampa. Hanya kalimat dokter itu yang terus bergema, menusuk gendang telinganya seperti ribuan jarum. Lumpuh. Tidak bisa berjalan. Jourell melepaskan cengkeramannya dari kerah baju dokter. Tubuhnya limbung. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah, hingga punggungnya menghantam dinding koridor yang dingin. "A-apa yang kau katakan?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba, amarah yang tak terkendali meledak dari dadanya—bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri. Dengan raungan yang terdengar seperti binatang yang terluka, Jourell membalikkan tubuh dan menghantamkan kepalanya ke dinding marmer itu. BRAK! "Jourell! Be

