"Kamu kenapa, Nak? Sepertinya ada yang kamu pikirkan," tanya Rahma lembut tetapi menyelidik. Nadia tersenyum tipis, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. "Bu, tadi siang aku ketemu Mas Hendra di kantor baru itu..." Rahma terdiam sejenak, tidak menyangka nama Hendra kembali muncul dalam percakapan mereka setelah sekian lama. "Hendra? Di kantor yang mana?" Nadia mengangguk. "Di kantor yang setiap hari pesen kue." "Loh, kok bisa?" tanya Rahma tak percaya. "Ternyata kantor itu milik keluarganya." "Ya, wajar. Mereka keluarga kaya kan dari0l dulu." Nadia mwnatao ibunya lekat. Betapa sakit hati hati ibunya akibat perlakuan keluarga Hendra masih membekas. Dulu, mamanya Hendra pernah menghina ibunya karena mereka berasal dari keluarga tak mampu. Sukma bahkan tak pernah

