“Kenapa kembali?” tanya Pras yang sudah berbaring nyaman di tempat tidur. “Aku bebaskan kamu untuk tidur di kamar anakmu.” Sinar berdecak. Mengunci pintu lalu beranjak ke tempat tidur. “Asa sama Aya dibawa tante Eila ke kamarnya.” “Mami,” ralat Sinar. “Bukan tante lagi.” “Ah, iya.” Sinar masuk ke dalam selimut yang sama dengan Pras. Namun, memberi jarak, karena semua masih terasa canggung. “Aku belum biasa.” “Diam dan jangan berisik,” titah Pras. “Aku sudah mau tidur.” Sinar berbaring miring menatap Pras. “Lampu tidurmu di nakas masih nyala. Emang kalau tidur nggak dimatiin?” “Bukan urusanmu.” “Ih!” Sinar mencubit kecil lengan Pras. “Jawab yang baik coba!” Pras menangkup wajah Sinar dan mendorongnya. “Diam, ak–” “Praaas!” Sinar menepis cepat telapak tangan pria itu dari wajahnya.

