Tawa yang tercipta membuat atmosfer di dapur terasa hangat walau senyatanya tawa Baja hanya sebatas kekehan tanpa suara, lalu tawa Aylin berupa bentuk protes jenaka. "Mas, ih! Itu masuk cangkangnya!" "Sedikit." "Ya, tetep aja. Mana enak makan cangkang telur." Baja nyengir lagi. "Ini masuk sendiri." Lalu dia mengambil sendok dan membuang bagian cangkang tersebut. Tadi serpihannya ada yang ikut masuk ke mangkuk. Ada-ada saja. Padahal kelihatannya prosesi memecahkan telur itu salah satu hal termudah, tetapi ternyata tidak. Baja masih salah-salah sampai bagian remuk dari cangkang telurnya ikut nyemplung. "Kasih garam secukupnya." Aylin lanjut memandu, menjalankan tugas. Well, masaknya belum selesai. "Secukupnya segimana?" Sambil Baja raih kemasan garam. Dia kupas, lalu ambil sendok.

