Baja duduk diam, sedangkan Aylin sudah melenggang masuk kamar. Tersisa keheningan. Baja lanjut mengetik, tetapi tak lama dia tutup laptopnya, lalu beranjak dari ruang makan. Langkahnya tegas menyusul Aylin. Di sini. Baja melihat wanita itu tarik selimut sampai menutupi keseluruhan tubuh, kepala juga tak terlihat, hanya helai-helai rambut. Dan selimut itu disentak, Baja yang tarik. Sontak Aylin terkesiap, praktis terduduk. Bersitatap. "Sepertinya kamu yang marah." Baja bicara dengan nada rendah. Aylin menggigit bibir bagian dalam, tetapi detik berikutnya dia bilang, "Emangnya aku berhak marah?" "Jelas nggak," timpal Baja cepat. Mata Aylin berkaca-kaca. "Di sini bukan Mas yang menyebut-nyebut nama perempuan lain, tapi kamu yang selalu sebut-sebut nama Raja. Anehnya, sekarang malah k

