Setelah ledakan energi dan cahaya di hadapan media, Puncak terasa seperti surga yang terisolasi. Jafran dan Zumena kembali ke benteng pinus mereka, membawa serta kelelahan fisik dan euforia emosional. Mereka telah memenangkan perang narasi. Mereka telah mengukuhkan cinta mereka di mata dunia. Kini, mereka hanya perlu mengukuhkannya di mata mereka sendiri, di tempat paling intim yang mereka miliki: kamar tidur mereka. Malam itu, Puncak diselimuti kabut tipis dan dingin, tetapi di dalam kamar tidur utama, suasana terasa hangat. Jafran menutup pintu dengan bunyi klik yang halus, bunyi yang melambangkan penutupan tirai terhadap seluruh kekacauan dunia luar. Zumena berdiri di depan cermin besar, melepaskan gaun safir blue yang ia kenakan saat konferensi pers. Ia melihat refleksi dirinya: s

