Dua hari setelah kembali dari Bali, Zumena mendapati rumah Puncak terasa berbeda. Ada aura misterius yang menyelimuti Jafran, tatapannya dipenuhi kilau antisipasi yang membuat Zumena terus bertanya-tanya. Jafran, sang Maestro Kontrol, sangat pandai menjaga rahasia, terutama yang melibatkan kejutan untuk Zumena. Pagi itu, Jafran menjemput Zumena di kantor Yayasan. Zumena baru saja menyelesaikan rapat penting mengenai alokasi dana beasiswa. Jafran tidak mengizinkan Zumena terbang dengan helikopter; ia bersikeras mereka harus berkendara dengan mobil limo hitamnya, yang berarti perjalanan yang lebih lama di tengah lalu lintas Jakarta. "Kenapa kita naik mobil, Jafran?" Zumena bertanya, tangannya membelai tangan Jafran. "Jalanan padat sekali. Kita bisa berada di Puncak sekarang." "Kesempu

