Setelah janji yang diucapkan di ruang makan kecil itu, janji yang lebih kuat dari perjanjian mana pun, Jafran membawa Zumena kembali ke kamar utama. Kamar yang besok pagi akan diselimuti cahaya fajar yang menyambut hari pernikahan mereka. Suasana di dalam kamar terasa sakral, hanya diterangi oleh lampu-lampu redup dan cahaya bulan yang masuk dari jendela besar yang menghadap Danau Como. Udara dipenuhi aroma lavender dan janji abadi. Mereka berdiri berhadapan, keheningan yang nyaman menyelimuti. Semua kata-kata telah diucapkan, semua ketakutan telah diakui. Yang tersisa hanyalah bahasa sentuhan, bahasa yang telah mereka pelajari dengan sangat baik. Jafran melangkah maju, tangannya yang besar dan hangat membingkai wajah Zumena. Ia tidak segera mencium; ia hanya menatap, matanya yang taj

