Alek membiarkan Liu untuk menangis dan meluapkan perasaannya, dalam hati dia mengerti dengan apa yang menjadi penyebab wanita itu menangis dipelukannya. “Sudah tenang?” tanya Alek sambil mengusap punggung dan membelai rambut Liu. Liu terdiam tak menjawab, hanya terdengar isakan tangis halus yang masih tersisa darinya. Alek lalu duduk di sampingnya, diusapnya pipi Liu dan menyeka air mata yang ada di sana. “Aku tidak tahu kamu bisa menangis seperti ini juga!” katanya seraya tersenyum. Liu memalingkan wajahnya. “Nggak apa-apa, jangan dipikirkan!” ucapnya sambil dia menepis tangan Alek dan mengusap wajahnya sendiri. “Kalau kamu lagi berkemas, silakan. Tapi maaf aku nggak bisa bantu, masih ada banyak pekerjaan di butik!” katanya seraya beranjak berdiri dan melangkah keluar dari kamar.

