Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela dapur yang sedikit terbuka. Aroma nasi goreng dan bawang goreng masih menggantung di udara, bercampur dengan suara wajan yang baru saja selesai digunakan. "Nduk, sudah siang ini kapan mau berangkat?" teriak Dina dari dapur, suaranya terdengar jelas hingga ke kamar Indri. Indri meletakkan sisir di atas meja rias. Dia memandang bayangannya sendiri di cermin, rambut panjangnya tertata rapi, kaus polos dipadukan dengan celana jeans, dan yang paling mencolok, kuku-kuku jarinya yang baru saja dirawat kemarin, mengilap dengan warna merah muda pucat. Dia tersenyum puas, lalu melangkah keluar. Di meja makan, nasi goreng dengan telur mata sapi sudah menanti. Dina duduk di kursi seberang, tangannya sibuk merapikan taplak meja meski sebenarnya sudah ra

