Suasana butik siang itu tenang, hanya diiringi suara mesin jahit dari ruang produksi dan gemerisik kain yang dilipat karyawan. Calista duduk di sofa kulit putih di ruang kerjanya, sesekali mengusap perutnya yang mulai sering bergerak. Di hadapannya, Citra baru saja tiba dengan langkah tergesa, tas kerja masih tersampir di bahu. "Mama akan pakai baju apa besok?" Calista memecah keheningan, matanya menatap ibunya yang sedang memeriksa kemeja dan jas pria yang tergantung rapi di manekin. "Kebaya?" Citra mengangkat bahu, jari-jarinya yang terawat merapikan kerah jas Juned. "Mama sudah siapkan di rumah. Tidak terlalu formal." Dia berhenti, meneliti setelan itu sekali lagi. "Tapi cukup sopan." Calista tersenyum. Tangannya terus mengusap perut dengan gerakan melingkar lembut. "Apa kamu sudah

