Pintu kamar terbuka pelan, sangat pelan, seperti orang yang takut mengganggu keheningan di dalam. Nathan mengintip dari celah, matanya menyapu ruangan. Di sudut, di kursi rias sementara yang disediakan keluarga, Indri duduk dengan gaun putih sederhana, bukan kebaya berat, bukan gaun pesta berpayet, hanya dress katun putih bersih yang jatuh lembut sepanjang betis. Rambutnya tergerai sebahu, wajahnya telah dibersihkan dari riasan tebal, menyisakan kulit yang segar dan mata yang masih berbinar oleh sisa-sisa haru seharian. Nathan tersenyum. Cantik. Sederhana. Nyata. "Boleh masuk, kan?" tanyanya dengan suara pelan. Dua wanita di dalam menoleh. Nisa, yang sedang merapikan tas kecil Indri, langsung tersenyum lebar. "Masuk aja, Om, kan sudah sah." Dia berdiri, merapikan rok jariknya. "Saya ju

