Tiga hari berlalu sejak penyerangan itu. Udara di ruang inap Nathan mulai terasa lebih ringan, meski aroma obat dan antiseptik masih menyengat. Nathan sudah bisa duduk lebih tegak, meski gerakannya masih hati-hati. Indri setia di sampingnya, sesekali membaca buku, sesekali hanya diam memegang tangannya. Pintu terbuka. Danu masuk dengan langkah cepat, jasnya masih rapi, tapi ada kelegaan di wajahnya. Indri yang semula duduk di kursi dekat ranjang, seketika mundur memberi ruang untuk Danu. "Pak Nathan." Dia mendekat, berhenti di samping ranjang. "Kabar baik. Dua pelaku penganiayaan sudah tertangkap." Nathan menatapnya, matanya berbinar. "Di mana?" "Di luar pulau. Mereka sudah dibawa ke markas kepolisian di Jakarta." Danu menghela napas, lalu melanjutkan, "Kita masih menunggu pencarian Na

