200. Menanti Halal

1502 Kata

Acara lamaran itu digelar seminggu setelah Nathan melamar Indri di restoran. Rumah orang tua Indri yang sederhana, dengan tembok bata ekspos dan halaman kecil kini berubah menjadi tempat yang istimewa. Ruang tamu yang tak begitu luas telah didekorasi dengan sederhana namun indah. Tirai putih digantung di sudut, beberapa rangkaian bunga segar menghiasi meja, dan lampu-lampu kecil memberi cahaya hangat. Surya duduk di kursi utama, kemeja batik lengan panjang yang baru dibelinya sehari sebelumnya masih terasa kaku. Dina di sampingnya, berkebaya sederhana dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Bima berdiri di belakang mereka, sesekali melirik ke arah pintu. Mobil hitam berhenti di depan rumah. Ardha keluar dari kursi rodanya yang dibantu Danu, diikuti Nathan dan Citra. Nathan tampil rapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN