Pagi itu udara masih segar ketika Rita membuka pintu rumahnya. Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang tak asing, Indri berdiri di depan pagar dengan dua bawaan, tas ransel merah muda milik Sisi dan sebuah travel bag hitam. Rita mengernyit, tangannya mengusap mata yang masih sayu. "Tumben pagi-pagi banget, Indri." Rita menyapa saat Indri membuka pagar dan berjalan mendekat. Suaranya masih serak oleh sisa tidur. Indri mengangkat kedua bawaan itu, tersenyum canggung. "Abang nyuruh aku anterin ini." Dia meletakkan tas Sisi di teras. "Katanya Sisi mau mulai sekolah hari ini." Dia berhenti, lalu menunjuk motor matic yang terparkir di pinggir jalan. "Dan Mbak bisa pakai motor aku untuk sementara." Rita menatap motor itu, lalu kembali ke Indri. Alisnya bertaut. "Lho, kok, begitu?" Padahal t

