Nathan menarik sofa kecil yang ringan mendekat ke ranjang, duduk dengan tubuh condong ke depan, siku menempel di lutut. "Baik. Sekarang ceritakan pada Om, alasan apa yang membuatmu meminta bantuan seperti ini." Calista menatap selimut putih di atas pangkuannya. Jari-jarinya, yang masih pucat, mulai memilin-milin ujung kain itu, memelintirnya menjadi gulungan kecil yang kusut. Sebuah keheningan tegang menyelimuti ruangan sebelum akhirnya dia menarik napas dalam-dalam, seperti orang yang hendak menceburkan diri ke air dingin. "Sebenarnya ... Bima adalah suami orang." Sofa kecil yang didudukinya berderit keras saat Nathan tiba-tiba terdorong ke belakang, tubuhnya kaku. "Apa?!" Suaranya meledak, memotong udara steril kamar rumah sakit. Matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang

