Rita mematikan mesin motornya di depan bengkel yang masih sepi. Matahari pagi menyoroti debu dan noda oli yang mengering di lantai beton. Dia menghela napas, mencium aroma khas solar dan logam. Ini bukan kebiasaannya, datang sepagi ini. Usai mengantar Sisi dan Juno, sebuah dorongan tiba-tiba membawanya ke sini, dengan kantong plastik berisi nasi uduk hangat tergantung di setang motornya. Dia tahu hari ini adalah jadwal Bima dengan dia, tapi entah mengapa, kakinya membawanya ke tempat ini. "Eh, Rita. Tumben pagi-pagi sudah mampir,” sapa Juned yang muncul dari balik tumpukan ban, handuk kasar terkulai di pundaknya. "Bima ... belum datang, ya, Bang?" tanya Rita, suaranya berusaha datar. Matanya menyapu ruangan kosong dan mendapati sepeda motor Bima ada di sudut ruangan. Juned mengusap dag

