Tapi ia hanya diam. "Apa?" desak Audrey, mulai tidak sabar. Aidan menggeleng. Jarinya bergerak, menutup galeri, kembali ke layar beranda. "Nggak. Cuma ... makasih sudah mengaku kalah." Suaranya datar, seperti biasa. Audrey memicing curiga, tapi tidak mendesak. "Terserah." Ia bangkit, melangkah ke pintu, dan menutupnya tanpa suara berlebihan. Aidan membuang napas panjang. Ponselnya masih tergenggam, layarnya mulai meredup. Ia membuka galeri lagi, jarinya menyusuri tepi video itu tanpa menekan. Ayahnya. Abby. Adiknya yang tersenyum. Semua dalam satu bingkai yang ia sendiri tak tahu harus diletakkan di mana. Kehadiran Abby memang memberi dampak positif bagi Suri yang seperti hidup kembali. Membuat ayahnya tersenyum lebih sering. Tapi juga membuat Aidan bingung, dan sedikit takut. Ia me

