Audrey menatapnya. Matanya tiba-tiba berkaca, tapi ia menahan. "Masalahnya ... yang Daddy nikahi ..." Ia menjeda, menelan ludah. "... Pengasuhnya Suri." Giselle membeku. Apel di tangannya berhenti di tengah jalan menuju mulut. Matanya membesar. "Oh." Napasnya tertahan. "Yang ... yang waktu itu? Yang aku lihat pas nginep di rumahmu?" Audrey mengangguk pelan. Sekali. Lalu menunduk lagi. "Wow." Giselle menghempaskan punggung ke kursi. Apelnya jatuh ke pangkuan, tidak dihiraukan. Matanya masih membelalak, mulutnya sedikit terbuka dan berbicara lagi, "Wow." Itu saja. Satu kata yang keluar dari keterkejutannya. Cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa berat. *** Meja makan siang itu terasa sepi tanpa kehadiran satu orang. Suri duduk di kursi tingginya, sendok berhenti di tengah j

