132. Sepupu Abby

1214 Kata

Pagi itu, rumah Callahan ramai oleh aktivitas. Suara tawa Suri bercampur dengan suara tangis Tristan yang sesekali melengking tanpa sebab, kadang karena lapar, kadang karena popok basah, kadang karena tidak jelas. Tangis bayi adalah misteri yang tidak pernah terpecahkan. Suri sudah ada di kamar orang tuanya sejak subuh, menarik-narik tangan Abby agar membangunkannya, padahal ia sendiri yang bangun lebih dulu. Sekarang ia duduk di atas ranjang, bersila, Tristan di pangkuannya, dengan bantuan Abby, tentu saja. Tangannya yang mungil mengelus-elus kepala adiknya yang plontos. Audrey dan Aidan masih di kamar masing-masing, bersiap untuk sekolah. Suara hair dryer dari kamar Audrey terdengar samar, sementara Aidan mungkin masih bergulat dengan kaus kaki yang hilang satu. Abby berdiri di depan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN