Elang memasuki kediaman kedua orang tuanya dengan amarah yang sudah tidak bisa dia tahan. Kedua tangannya terus saja mengepal ingin segera menghajar b******n yang sudah melukai Kakaknya. “Dimana b******n itu, Pi?” Elang berlari menuju ke kamar Claudia yang berada tepat di samping kamarnya. Dia tidak mau mendengarkan apa yang Papinya katakan karena sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Membuka pintu dengan sangat kasar hingga membuat orang yang ada di dalam terkejut dengan sikap tidak sopan Elang. “Elang, kamu bisa membuka pintu dengan lebih keras lagi?” sindir Ariska. “Kakakmu sedang sakit kamu malah seenaknya sendiri!” “Dimana b******n itu, Mi?!” tanya Elang tanpa mau menjawab ucapan Ariska. “Tidak ada di sini.” “Oh, Mami masih mau melindungi Pria itu?” “Mami berkata jujur, Nak.”

