EFEK DOMINO

2187 Kata

Tiga bulan kemudian. “Wawawayah! AYAH!” ‘Plak!’ Helia spontan tergelak. Bintang terkekeh meski matanya masih terpejam. Tangan gempal Nadia terulur lagi, kali ini hendak meraup mata Bintang. Mungkin maksudnya agar ayahnya segera bangun. Bintang membuka mata, memicing ke putrinya. Nadia sontak tersenyum. Air liurnya menetes. “Masa Ayah digaplok sih, Neng?” ujar Bintang, pura-pura memberengut. Ekspresi Nadia spontan berubah, kedua ujung bibirnya ikut tertarik ke bawah. Bintang tergelak. Lalu meraih Nadia untuk ia naik-turunkan di atas dadanya sebelum menciumi wajah mungil itu. “Bonjour, Nadia.” “Tatata.” “Ayo bangun, Ayah. Nanti terlambat lho. Bilang gitu dong, Nad,” timpal Helia. “Jam berapa memangnya, sayang?” tanya Bintang. “Setengah tujuh.” “Waduh!” “Ayayayah.” “Nadia ken

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN