BUKTI-BUKTI

2160 Kata

Selepas istirahat, persidangan memasuki sesi kedua. Kali ini dengan menghadirkan Zetta di kursi terdakwa. Pengakuannya dibacakan dalam dua bahasa, Indonesia dan Prancis. Berbeda dari Gavin, Zetta tak sekuat itu menahan emosinya, terutama yang terlukis di wajah. Perempuan itu terlihat lelah dengan sorot mata yang kosong. Wajahnya pun tampak lebih kusam dari yang Bintang ingat terakhir kali. Hal utama yang disorot oleh pengadilan bukanlah latar belakang kejahatan yang Zetta lakukan, melainkan inkonsistensi dari detail pernyataannya. “Kenapa Anda berbohong soal nominal dana yang Anda bayarkan ke dua eksekutor?” tanya hakim. “Dari tiga kali pemeriksaan, jumlahnya tak pernah sama, bahkan terus menurun.” Bibir Zetta tampak bergetar. “Saya... lupa.” Hakim menatapnya tajam. “Anda lupa jumlah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN