TERJAGA

1874 Kata

Perjalanan ke parkiran dilakukan dengan kursi roda, meski Helia sebenarnya sudah bisa berdiri. Bintang bersikeras. Helia tak membantah. Ada kalanya menurut bukan karena lemah, melainkan karena tubuh tau batasnya sendiri. “Gimana, A? Papa Ga dan papinya Kak Amanda itu sahabatan?” ulang Helia, menyimak cerita yang Bintang kisahkan. “Iya. Sama Ayah Borne juga. Kamu belum pernah ketemu sih sama beliau,” jelas Bintang. Helia mengangguk. “Aku tuh penasaran sebenarnya, A.” “Soal apa?” “Gavin ngapain ya ke sini?” Bintang juga sebenarnya ingin tau, tapi tak ada yang membahas perihal itu sedari tadi, baik Amanda, ataupun Ian dan Meta—orangtua Amanda—yang sempat menjenguk Helia sebentar. “Coba nanti aku tanya Papi Ian deh,” jawab Bintang. “Ih, mana boleh kayak gitu, A? Confidential tau.” “Ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN