SEASONAL

1767 Kata

Waktu menunjukkan sepuluh menit lewat dari pukul dua siang. Suasana Théologie kini lebih tenang. Denting sendok mulai jarang terdengar. Meja-meja yang tadi penuh kini sebagian kosong, menyisakan gelas berembun dan piring-piring yang menunggu diangkat. Helia masih duduk di tempatnya, mendengarkan cerita Hana dan Edo tentang usaha catering dan Jihan’s Homey Home—kafe milik mereka di Bandung. “Kebanyakan menunya sundaan, Teh,” ujar Hana. “Minuman ada, tapi ya yang basic dan kekinian aja, ngga sedetail Théologie,” tambah Edo. “Nanti kalau ke Bandung, cobain makan di sana,” timpal Hana lagi. “Pasti, Bunda. Insya Allah,” tanggap Helia. Obrolan belum jadi berlanjut saat suara Dirga mend0minasi lebih dulu. Tak memekik, namun jelas sarkas. Bukan tertuju ke Helia atau Bintang, namun ke sepupun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN