Di waktu yang sama, namun Surabaya terasa begitu panas malam itu. Arani sudah beristirahat di kamarnya, sementara Munik meletakkan dua gelas lemon tea di meja ruang keluarga. “Pusing,” keluhnya. “Sini, aku pijit kepalanya,” tawar Yudi. Munik mendelik ke laptop yang masih terbuka. “Bukannya masih ada kerjaan?” Yudi menggeleng. “Cuma lihat laporan pasar.” “Mas?” “Hmm?” Munik duduk di atas karpet, di antara kaki Yudi, sementara suaminya langsung menekan-nekan jemari di keningnya. “Mas tau ngga siapa Zetta?” tanya Munik. “Zetta?” ulang Yudi. Ia memiringkan kepalanya, mencoba mengingat, namun berakhir dengan gelengan. “Iya, Mas. Zetta.” “Yang sempat sahabatan sama Helia, bukan?” “Betul," jawab Munik. “Siapa memangnya?” Yudi membalas dengan tanya. Munik menghela napas panjang. “Sud

