“Ke… Prancis?” suaranya serak. “Saya ngga punya uang, Pak.” Penyidik di depannya tak langsung menjawab. Ia menutup map berwarna cokelat, lalu menatap Zetta seolah ingin memastikan perempuan itu waras dan bisa mengerti ucapannya. “Kasus ini berada di yurisdiksi Prancis,” ujarnya, datar. “Pengakuan Saudari di sini hanya membuka pintu.” Zetta menggeleng. “Saya juga ngga punya pengacara. Saya ngga sanggup bayar siapa pun. Ibu saya sakit. Saya—” Napasnya terputus. “Saya ngga bisa ke mana-mana.” Ia terdengar ketakutan. Penyidik itu menarik kursi, duduk lebih dekat. “Dengar, Saudari sudah menyerahkan diri. Dan itu tercatat,” tanggap penyidik. Zetta mengernyit. “Terus?” “Artinya, Saudari berada dalam perlindungan hukum, tidak akan dibiarkan begitu saja.” Penyidik mengetuk-ngetuk pelan permuk

