RESPON DIRI

1808 Kata

“Baru bangun?” tanya Bintang di ujung panggilan. “Iya, A,” jawab Helia. “Aku di depan, sayang.” “Depan?” “Pintu.” Helia membelalak. Ia gegas beringsut. Dari depan saklar ke depan cermin; merapikan piyamanya, menyisir surai dengan jari, membersihkan sudut-sudut mata dan bibir, dan yang paling penting... menenangkan jantungnya yang detaknya tiba-tiba meningkat. “Izora?” tegur Bintang. “Kok aku dicuekin?” “Bukan. Sebentar, A,” tanggapnya. “Oke.” Tanpa mematikan panggilan itu, Helia melangkah ke pintu, membukanya. Bintang tersenyum. Berdiri di hadapannya seolah baru turun dari langit. Kemeja putih, celana hitam, outfit default para pekerja kantoran—namun entah bagaimana, segala sesuatu yang biasa, di tubuh pria itu justru meningkat levelnya. Lengan kemeja digulung rapi sampai siku. R

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN