Mobil melaju menjauh dari Paris, memasuki jalur yang lebih sepi. Lampu kota semakin jarang, berganti deretan pohon musim gugur yang meranggas. Aspal basah memantulkan cahaya lampu mobil sesaat, lalu kembali gelap. Zetta duduk kaku. Tangannya di pangkuan, jemari saling mengunci. Ia mencoba mengatur napas, tapi setiap tarikan terasa dangkal. Sesak. “Aku tinggal dengan siapa di unit itu nanti?” tanya Zetta, dengan bahasa Indonesia, jelas tertuju khusus ke Raka. Raka mengehela napas pelan. “Saya belum tau,” jawabnya singkat. “Yang jelas, kamu tidak boleh pergi ke mana pun tanpa izin.” “Apa bedanya dengan ditahan,” gumam Zetta. “Peranmu saat ini belum menjadi tahanan, tapi orang yang sedang menunggu konsekuensi,” balas Raka. Zetta menoleh. “Mas selalu ngomong sedingin itu ke klien?” Raka

