Setelah cukup lama merenung di taman, Eleanor menyeret kakinya yang lelah menuju lobi apartemennya. Udara malam yang dingin masih menempel di coat-nya, seolah mencerminkan suasana hatinya yang beku. Matanya, biasanya cerah, kini redup oleh kelelahan dan beban yang tak kunjung usai. Dan benar saja, di sana, di sofa lobi, Ben masih duduk menunggunya, seperti yang dia prediksi tadi. Eleanor menghela napas dalam. Dia sama sekali tidak ingin bertemu siapa pun malam ini—terutama Ben. "Kau masih di sini?" ujarnya, suaranya datar, tanpa emosi. “Bukankah tadi aku sudab bilang agar kau pulang saja? Kita bisa bertemu besok.” Ben langsung berdiri, wajahnya bersinar seperti biasa saat melihatnya. "Aku khawatir denganmu. Kau tidak pernah pulang se-larut ini.” "Karena aku sibuk, Ben. Sangat

