Eleanor menatap layar ponselnya yang kosong untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan terlewat. Hanya tanggal di sudut layar yang terus berganti—14 hari sejak terakhir kali Geo menyentuhnya, 14 hari sejak suara beratnya yang khas mengucapkan selamat tinggal. ‘Aku hanya akan pergi seminggu,’ begitu katanya waktu itu. Tapi dua minggu telah berlalu tanpa kabar. Dia mengalihkan pandangan ke cincin pertunangan di jarinya. Berlian besar dari Ben itu berkilau sinis di bawah lampu kamarnya, seakan mengejek kegalauannya. * * Malam itu, acara makan malam keluarga dengan calon mertuanya berlangsung seperti biasa. Eleanor tersenyum canggung ketika Ben memegang tangannya di atas meja, tertawa ringan pada lelucon ayah Ben tentang pernikahan mereka yang akan datang. T

