"Ya Tuhan, Ay. Kenapa kamu belum tidur? Dan kenapa gelap sekali? Aku baru pulang lembur. Rapatnya berjalan sangat alot," kata Tama, suaranya dipenuhi kelelahan palsu. Ia mulai melepaskan dasinya. Aya tidak bergerak. Ia menatap Tama dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia melihat kemeja Tama yang kusut sebagian—kusut karena dihabiskan di mobil atau ruangan pribadi, bukan karena di depan komputer kantor. Dan ia menciumnya: aroma parfum Maharani, lebih kuat dari biasanya, bercampur dengan bau alkohol ringan. "Kamu lembur?" tanya Aya, suaranya serak dan sangat pelan. Tama mengangguk, mencoba meraih Aya. "Iya, Sayang. Jangan marah. Ini demi kita. Kamu harusnya bangga padaku." Aya menepis tangan Tama dengan gerakan tajam. "Kamu pikir aku bodoh, Tama?" Aya lalu menunjuk ke tumpukan k

