Awal Pernikahan Bahagia.

1195 Kata
Setelah janji di depan penghulu, babak baru kehidupan Aya dan Tama dimulai di rumah kontrakan kecil mereka. Bulan-bulan awal pernikahan terasa manis, seolah menutupi segala drama dan keterpaksaan yang mengawali ikatan mereka. Mereka berdua sama-sama bekerja, Tama di kantornya sebagai junior staff, dan Aya di kantor lamanya yang kini mulai memberikan keringanan untuk kondisi kehamilannya. ​Rumah kontrakan kecil itu, yang hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang tamu yang merangkap ruang makan, dan dapur seadanya, terasa seperti istana bagi mereka. Mereka mendekorasi dengan sederhana, memasang gorden tipis dan menata perabotan yang mereka warisi dari keluarga dan hadiah pernikahan. Itu adalah sarang pertama mereka, dan kehangatannya tercipta dari setiap usaha yang mereka bagi. ​Setiap pagi, rutinitas mereka kini adalah berbagi tugas di dapur mungil. Tama, yang awalnya sama sekali tidak bisa memasak—hanya tahu merebus mi instan—mulai belajar membuat sarapan sederhana. ​"Aku minta maaf ya, Sayang. Masakanku cuma nasi goreng basic terus, atau paling mentok, telur ceplok," ujar Tama suatu pagi, menyajikan piring. Ia menyadari masakan rumahnya tidak ada apa-apanya dibandingkan masakan Ajeng atau Sarah. ​Aya tertawa lembut, mengusap pipi Tama yang terkena sedikit percikan minyak. "Ini enak, Tam. Apalagi kalau kamu yang masak. Yang penting kita makan berdua, dan kamu yang udah repot-repot bikin," puji Aya. Sederhana, tapi tulus. Keberhasilan pernikahan mereka saat ini diukur dari effort kecil harian yang Tama tunjukkan. ​Masa kehamilan Aya berjalan dengan cukup lancar, meskipun diwarnai morning sickness yang parah di trimester pertama, terutama karena janinnya kembar. Muntah-muntah di pagi hari menjadi alarm harian mereka. Namun, Tama selalu siaga. Ia selalu memastikan Aya minum vitamin yang diresepkan dokter dan tidak terlalu lelah. ​"Kamu harus duduk, Sayang. Jangan memaksakan diri mencuci piring, gelnya sudah numpuk biarkan saja," kata Tama suatu sore sepulang kerja, segera mengambil alih pekerjaan Aya. "Ingat, kamu lagi membawa dua kehidupan di dalam sana. Biar aku yang cuci. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." ​Perhatian kecil Tama ini adalah fondasi kebahagiaan mereka. Tama tidak pernah absen menemani Aya check-up bulanan. Kunjungan rutin ke dokter kandungan adalah acara mingguan yang paling mereka tunggu. Ini adalah satu-satunya momen di mana mereka bisa sejenak melupakan tagihan dan kecemasan, fokus pada keajaiban di perut Aya. ​Setiap kali mereka melihat kedua janin mereka tumbuh di layar USG, kebahagiaan Tama meluap-luap. Dokter selalu menekankan bahwa kehamilan kembar membutuhkan nutrisi dan istirahat ekstra, yang mana secara tidak langsung menekan Tama untuk bekerja lebih keras lagi. ​"Lihat, Sayang! Mereka berdua melambai! Pasti mereka tahu kalau Ayahnya ada di sini," seru Tama suatu kali di ruang periksa, membuat Aya tersenyum haru dan melupakan sejenak rasa mualnya. "Dokter bilang beratnya sudah mulai bagus, tapi kamu harus perbanyak protein. Nanti malam aku masakkan sup ayam spesial dari resep Ibu." ​Tama benar-benar mendalami perannya sebagai calon ayah. Ia membaca buku panduan hamil, ia mengunduh aplikasi penghitung kontraksi (meskipun Aya belum mencapai trimester akhir), dan ia bahkan mulai berbicara dengan nada lebih rendah dan lembut saat di rumah, takut mengganggu ketenangan si kembar. ​Aspek finansial pun terasa tertata berkat kerja sama di awal pernikahan ini. Mereka duduk setiap akhir bulan, menghitung setiap lembar rupiah. Pemasukan rumah tangga mereka lumayan stabil karena keduanya masih bekerja. ​"Gaji Aya kita pisahkan mutlak," ujar Tama suatu malam, saat mereka menghitung anggaran di atas meja makan kecil. "Sebagian besar ditabung untuk biaya persalinan kembar yang pasti mahal, sisanya untuk dana darurat. Gaji aku, baru kita alokasikan untuk sewa kontrakan, kebutuhan sehari-hari, bensin, dan cicilan motor." ​"Kita harus hemat, Sayang. Pengeluaran kita nanti akan dua kali lipat, s**u formula, diapers, semua serba ganda," timpal Aya, mencoret langganan streaming film dan memutuskan untuk berhenti makan di luar pada hari kerja. Mereka bahkan mulai menggunakan angkutan umum lebih sering daripada motor, hanya untuk menghemat bensin. ​Uang yang mereka kumpulkan berdua terasa lebih berarti. Mereka berburu diskon, membandingkan harga di pasar tradisional dan minimarket. Mereka senang saat berhasil mendapatkan tawaran bagus untuk perlengkapan bayi yang sudah mulai mereka cicil: dua buaian bekas yang masih layak pakai dari teman kantor Aya, dua set baju bayi yang dibeli secara online saat diskon besar, dan tumpukan diapers kecil. Setiap barang yang masuk ke rumah terasa seperti kemenangan kecil atas tantangan finansial mereka. ​Hubungan dengan keluarga pun perlahan membaik. Ajeng mulai sering datang berkunjung, membawakan masakan atau vitamin untuk Aya, meskipun komentarnya masih sering bersifat mengkritik. ​"Kamu itu harus banyak istirahat, jangan pulang sore-sore. Kamu itu hamil anak kembar, bukan cuma satu," kritik Ajeng, saat melihat Aya masih sibuk menyapu. Namun, kali ini Aya bisa menghadapinya dengan lebih sabar karena Tama selalu membelanya. ​"Bu, Aya sudah izin sama kantornya. Dia sudah menyesuaikan porsi kerjanya. Nggak apa-apa, Bu. Saya yang akan memastikan dia istirahat," bela Tama, selalu berdiri di antara Aya dan komentar tajam ibunya. ​Di sisi lain, Galih dan Sarah mulai merelakan. Mereka lega melihat Tama benar-benar memperlakukan Aya dengan baik dan serius. Sarah sering datang membantu membersihkan kontrakan dan memasak makanan sehat untuk Aya, memastikan cucunya mendapatkan yang terbaik. ​"Ibu lega melihat kamu bahagia, Nak. Tama terlihat benar-benar mencintaimu, terlepas dari awal pernikahan kalian," kata Sarah suatu kali, sambil memijat kaki Aya. ​Momen termanis mereka adalah saat malam hari di rumah kontrakan. Setelah selesai makan malam, mereka akan duduk berdua di sofa kecil, mendengarkan musik atau menonton film sederhana. Tama seringkali akan meletakkan telinganya di perut Aya, berbicara pada kedua calon anak mereka dengan penuh kasih sayang. ​"Hai, anak Ayah. Jangan nakal-nakal ya di dalam. Kasihan Bundamu sering mual. Cepat besar, nanti kita main bola bareng, kita ajak touring naik motor ya," bisik Tama. Perhatiannya pada janin mereka membuat Aya merasa sangat dicintai dan terjamin. ​Namun, di tengah kebahagiaan awal ini, ada satu hal yang mulai membuat Aya khawatir: kelelahan Tama. Tama tidak pernah mengeluh, tapi ia sering lembur, bahkan mengambil pekerjaan sampingan sebagai desainer grafis freelance setelah jam kantor. Seringkali, Aya menemukan Tama tertidur pulas di meja makan, diapit laptop dan buku tabungan. ​"Kamu jangan terlalu memaksakan diri, Tam. Kesehatanmu penting. Tidurmu kurang sekali," tegur Aya lembut, membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke ranjang. ​"Aku harus kuat, Sayang. Aku harus memastikan tabungan kita cukup sebelum kamu berhenti kerja. Aku nggak mau kamu khawatir sedikit pun soal uang saat kamu sudah waktunya cuti nanti," jawab Tama, selalu memikirkan masa depan. Mata Tama tampak sembap dan wajahnya mulai terlihat cekung karena kurang tidur. Ia tahu, ia harus mengisi 'kas' rumah tangga mereka sebelum Aya berhenti bekerja di trimester akhir. Beban finansial ganda terasa nyata, dan Tama memikulnya dengan sekuat tenaga. ​Kebahagiaan awal pernikahan mereka memang nyata, fondasinya dibangun di atas janji dan kerja keras. Mereka menikmati masa-masa kehamilan yang lancar, namun di benak mereka berdua, ada rasa cemas yang tertahan menanti hari di mana Aya harus berhenti bekerja. Mereka berdua tahu, masa-masa manis ini hanyalah permulaan. Badai tanggung jawab yang sesungguhnya akan datang setelah kedua bayi mereka lahir, dan saat itu, Tama akan menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. ​Perut Aya semakin membesar, memasuki akhir trimester kedua. Dokter sudah mulai menyarankan Aya untuk mengurangi aktivitas berat. Aya tahu, keputusan sulit harus segera diambil, sebelum kesehatannya dan si kembar terancam, dan sebelum Tama benar-benar mencapai batas lelahnya. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN