Tama menjelaskan hitungan kasarnya. "Jika kamu kembali bekerja, kita harus menyewa pengasuh. Satu pengasuh tidak akan sanggup mengurus bayi kembar, jadi kita butuh dua. Atau setidaknya, satu pengasuh yang sangat profesional dengan biaya sangat tinggi. Biaya pengasuh untuk kembar bisa menghabiskan lebih dari setengah gajimu. Setelah dipotong itu, sisanya tidak akan signifikan untuk ditabung biaya sekolah mereka nanti."
Tama memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Aya. "Selain faktor biaya, aku tidak tenang, Ay. Aku tidak tenang membiarkan dua anak kita yang masih sangat kecil diurus orang lain, apalagi kita berdua harus lembur. Aku mau kamu fokus sepenuhnya mengurus Alif dan Arif. Ibu Sarah juga tidak mungkin datang setiap hari."
Tama menggenggam tangan Aya lagi, memohon pengorbanan terberat. "Aku tahu ini adalah pengorbanan besar untuk kariermu. Kamu sudah membangunnya sejak lama. Tapi tolong, Sayang. Beri aku kesempatan. Biarkan aku menanggung beban finansial ini sendirian, seluruhnya. Aku akan bekerja sekuat tenaga, aku akan ambil semua lembur dan freelance yang aku bisa. Aku janji, aku akan memastikan anak-anak kita tidak kekurangan apa pun, tapi aku butuh kamu di rumah, menjadi manajer rumah tangga kita dan menjaga mereka dengan tanganmu sendiri."
Aya menatap wajah lelah Tama. Ia melihat ketulusan, tekad, dan rasa takut yang bercampur aduk di sana. Ia ingat janji yang pernah ia buat, bahwa ia akan mendukung perjuangan suaminya.
Pergulatan batin Aya sangat keras. Ia mencintai pekerjaannya, kemandiriannya. Tapi ia melihat si kembar, Alif dan Arif, yang sangat rapuh dan membutuhkan ibunya. Ia melihat Tama, yang sudah berusaha keras hingga titik kelelahan. Pengorbanan karier adalah wujud nyata dari cintanya saat ini.
"Baik, Tama. Aku setuju," jawab Aya, menghela napas pasrah. Matanya berkaca-kaca, bukan karena penyesalan, tapi karena ia harus mengucapkan selamat tinggal pada jati dirinya yang lama. "Aku akan ajukan surat pengunduran diri besok. Aku akan mengorbankan karierku demi fokus pada Alif dan Arif. Aku akan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."
Tama merasa sangat lega. Ia menarik Aya ke dalam pelukan. "Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku nggak akan menyia-nyiakan pengorbanan ini. Kamu yang terbaik."
***
Keputusan telah diambil: Aya harus melepaskan kariernya demi fokus penuh pada Alif dan Arif, si kembar yang kini menjadi pusat alam semestanya. Meskipun Tama sudah meyakinkannya, rasa berat hati Aya sangat nyata. Posisi Aya di perusahaan, meskipun bukan perusahaan multinasional raksasa, adalah sekretaris pribadi CEO, sebuah posisi strategis yang menuntut kecerdasan, ketelitian, dan tentu saja, menawarkan gaji yang sangat baik—jauh lebih stabil daripada gaji Tama sebagai junior staff.
Pagi itu, Aya menyisir rambutnya dengan rapi, mengenakan pakaian kerja terbaiknya yang kini agak longgar di tubuh pasca-melahirkan. Ia membawa amplop tebal berisi surat pengunduran diri, surat yang ia ketik dengan tangan gemetar. Tama mencium keningnya sebelum Aya berangkat, berpesan agar Aya tidak memikirkan pekerjaan lagi, hanya fokus pada dirinya.
Sesampainya di kantor, suasana terasa akrab namun canggung. Rekan-rekan kerjanya menyambutnya dengan gembira setelah Aya cuti melahirkan, namun mereka tahu Aya datang bukan untuk kembali bekerja.
Aya langsung menuju ruangan CEO, Bapak Adnan. Adnan adalah seorang pemimpin yang suportif dan sangat menghargai kinerja Aya.
"Aya! Selamat datang kembali, dan selamat atas kelahiran jagoan kembar! Bagaimana kabar mereka?" sambut Pak Adnan dengan hangat, mempersilakan Aya duduk.
Aya tersenyum paksa. "Terima kasih banyak, Pak Adnan. Mereka sehat, Alhamdulillah."
Aya menarik napas dalam-dalam, mengambil amplop dari tasnya, dan meletakkannya di meja. "Maaf, Pak Adnan. Kedatangan saya hari ini ... untuk mengajukan surat pengunduran diri saya."
Suasana ruangan seketika hening. Pak Adnan menghentikan gerakannya, mengambil amplop itu, dan membacanya perlahan. Raut wajahnya berubah menjadi ekspresi penyesalan yang mendalam.
"Aya, kamu serius? Kamu tahu, posisi ini sangat bergantung pada kamu. Saya sudah mencari pengganti, tapi tidak ada yang bisa menyamai ketelitian dan kecepatan kamu. Saya sudah berharap kamu kembali setelah cuti," ujar Pak Adnan, nadanya sarat akan kekecewaan profesional.
"Saya serius, Pak. Ini sudah menjadi keputusan bulat saya dan suami," jawab Aya, menahan air mata yang hampir tumpah. "Bayi kembar membutuhkan perhatian ganda. Dengan kondisi finansial kami saat ini, menggaji dua pengasuh akan menghabiskan hampir seluruh gaji saya. Sementara saya tidak bisa membiarkan mereka hanya diurus satu orang. Suami saya meminta saya fokus penuh di rumah."
Pak Adnan mengangguk maklum. Ia adalah seorang ayah, ia mengerti dilema itu, meskipun ia sangat menyayangkan hilangnya karyawan terbaiknya.
"Saya sangat menyayangkan keputusanmu, Aya. Jujur, perusahaan dan saya pribadi merasa kehilangan. Kamu adalah sekretaris terbaik yang pernah saya miliki," kata Pak Adnan. "Gaji kamu sangat baik, dan kamu memiliki prospek karier yang cerah di sini. Tapi saya mengerti. Keputusan seorang ibu untuk anak-anaknya adalah prioritas utama."
Pak Adnan menawarkan solusi terakhir. "Bagaimana kalau kita coba sistem paruh waktu? Atau kamu bekerja dari rumah untuk beberapa urusan administrasi penting?"
Aya menggeleng halus. "Terima kasih banyak atas tawaran Bapak. Tapi saya harus fokus total. Saya harus mendukung suami saya. Keputusan saya sudah bulat, Pak."
Akhirnya, dengan berat hati, Pak Adnan menerima pengunduran diri Aya. Ia berjanji akan memberikan pesangon dan perhitungan cuti yang adil, serta menulis surat rekomendasi terbaik. "Pintu kantor ini akan selalu terbuka untuk kamu, Aya. Kapan pun kamu siap kembali, hubungi saya," janji Pak Adnan, mengakhiri pertemuan.
Setelah meninggalkan ruangan CEO, Aya kembali ke mejanya untuk membereskan barang-barangnya. Rekan-rekan kerjanya, yang sudah mendengar kabar itu dari desas-desus, mulai mengerubunginya.
"Ya ampun, Aya! Kamu beneran resign? Kenapa nggak coba sewa pengasuh dulu, sih?" tanya Rina, rekan kerjanya di departemen keuangan, dengan nada menyesal.
"Iya, Aya. Gaji kamu kan lumayan besar. Sayang banget dilepas," timpal Bima dari departemen IT. "Posisi sekretaris CEO itu keren lho, gampang cari pekerjaan lagi nanti kalau mau, tapi sayang aja ninggalinnya."
Aya tersenyum, mencoba terlihat tegar. "Aku tahu, teman-teman. Tapi aku nggak tega meninggalkan si kembar dengan orang asing. Dan Tama juga ingin aku fokus di rumah. Ini adalah keputusan terbaik untuk keluarga kecilku."
Meskipun Aya telah memberikan jawaban yang sama berulang kali, ia bisa melihat ketulusan dan penyesalan di mata rekan-rekannya. Mereka tahu betapa berartinya pekerjaan ini bagi Aya.
"Kami akan sangat merindukan ketelitian mu, Ay. Siapa yang akan mengingatkan Pak Adnan kalau dia ada janji penting sekarang?" gurau salah satu staf, namun suaranya terdengar sedih.
Perpisahan diakhiri dengan acara makan siang kecil yang diselenggarakan mendadak oleh rekan-rekan kerjanya. Mereka memberikan kado-kado kecil untuk Alif dan Arif, disertai pesan-pesan dukungan.
Saat Aya bangkit dari kursi, Rina memeluknya erat-erat, berbisik di telinganya. "Jangan sampai kehilangan jati diri ya, Ay. Jadi ibu rumah tangga itu mulia, tapi jangan lupakan skill dan pendidikanmu. Semoga kamu bisa kembali ke dunia kerja nanti."
Pesan Rina terasa menampar kesadaran Aya. Ia tahu, pengorbanannya bukan hanya tentang gaji, tetapi juga tentang identitas. Ia kini akan menjadi "hanya" ibu rumah tangga.
Dengan mata berkaca-kaca, Aya mengucapkan selamat tinggal. Ia berjalan keluar dari gerbang kantor itu untuk terakhir kalinya, membawa kotak berisi barang-barang pribadinya dan perasaan lega bercampur sesal.