Tama kini berada di bawah tekanan ganda, ancaman pengusiran dari Ajeng—jika ia tidak menikahi Maharani dan konfrontasi dingin dari Aya—yang telah memiliki bukti kebohongan pulangnya. Daripada introspeksi atau meminta maaf, Tama memilih mekanisme pertahanan yang paling merusak: menyalahkan Aya secara total melalui pemutarbalikan fakta. Tama masuk ke kontrakan, tubuhnya dipenuhi rasa tegang dan jijik. Ia melihat Aya sedang melipat popok di sofa, dengan ekspresi wajah yang dingin dan tak tersentuh sejak konfrontasi malam sebelumnya. Aya tidak lagi menangis, dan ketiadaan emosi itu membuat Tama semakin marah—Aya merusak drama korban yang ia bangun. Tama menghampirinya, mengenakan jubah kebohongan dan topeng otoritas yang baru ia pinjam dari Ajeng. "Ay, aku sudah memikirkannya baik-baik
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


