Author POV Tifa tidak bisa menahan air mata. Susah payah ia merapatkan sepasang bibir agar tidak terbelah, namun air mata tetap mengalir dengan derasnya. Mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Arda, Tifa merasa hatinya remuk. Dalam hati Tifa meyakini jika semua kata-kata Arda itu bohong. Akan tetapi, rasa sakit itu tidak terelakkan. “Lo sudah dengar sendiri apa yang Arda katakan. Itulah kenyataannya. Selama ini dia hanya membohongimu.” Rizal tertawa senang, melihat air mata Tifa turun begitu deras. Rizal merasa puas sekali. “Sudah gue bilang, Arda nggak pernah cinta sama lo. Dia nggak akan bisa cinta sama perempuan. Arda itu hanya milikku.” Rizal tersenyum sinis. Pria itu kemudian menempelkan ponsel kembali ke telinganya. “Sekarang lo harus ikutin apa yang gue mau, Arda. Lo

