"Kenapa kamu melamun? Katanya mau makan." Suara Intan yang cukup kencang, menarik kesadaran Darren. Dia segera mengambil mangkok dan Intan dengan sikap menuang isinya. Wanita itu lalu mengambil sedikit nasi untuk sang adik yang sudah duduk di kursi meja makan dapur. Perut Darren terasa hangat saat kuah sup itu melewati tenggorokannya. "Enak nggak?" tanya Intan yang kini duduk di depan Darren. "Enak, Kak. Masakan Kakak nggak pernah gagal," puji Darren setelah selesai mengunyah. "Syukurlah kalau enak. Makan yang banyak," ucap Intan. "Tapi, Kak. Kenapa Kakak mesti masak malam-malam gini? Kayak kurang kerjaan aja." Intan langsung melebarkan mata saat mendengar ucapan Darren, sentilan pun mendarat pada dahi pria itu tak lama kemudian. "Sembarangan kamu bilang Kakak kurang kerjaan. Emang

