Sementara itu di kantor, Cecilia kembali ke ruang sekretaris dengan langkah berat. Para rekannya yang melihat hanya membiarkan tanpa mengajak bicara, sebab mereka tahu betapa seramnya wanita itu jika sudah marah besar. Jari Cecilia mengetik cepat di laptop, mencoba menenggelamkan pikirannya pada setumpuk berkas. Namun bayangan Darren yang tersenyum saat menerima telepon Kathleen terus terlintas di benaknya. "Bodoh," gumam Cecilia pelan, entah ditujukan pada Darren atau dirinya sendiri. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Giovanni tertera di layar. Cecilia memijit pelipisnya sebelum menerima panggilan itu. "Ya, Pak Giovanni." "Cecil, Darren ke mana? Saya dari tadi cari dia, tapi nggak ketemu, saya telepon juga nggak diangkat," tanya Giovanni. "Pak Darren pulang lebih awal, P

