"Terima kasih atas tumpangannya, dan terima kasih juga sudah mengingatkan saya betapa rendahnya level saya di mata Bapak. Sekarang silakan pergi, Tuan Muda Sanjaya." Darren terkesiap saat Cecilia berkata dengan dingin, dia menggigit bibirnya saat melihat air mata mengalir deras membasahi pipi gadis itu. Melihat Darren yang hanya mematung, membuat Cecilia menarik napas panjang dan masuk ke dalam kamar kost-nya. Kamar yang bagi Darren terlihat seperti sarang tikus itu. Begitu pintu tertutup, Cecilia berjongkok dengan kedua tangan memeluk lututnya sendiri. Isak tangis yang sejak tadi dia tahan kini pecah dalam kesunyian kamar yang berukuran 4 kali 4 meter itu. Perasaan mual di perutnya terasa semakin menjadi-jadi, bercampur dengan rasa sesak yang menghimpit d**a akibat ucapan kasar Darren.

