"Cecilia," panggil Darren pelan. Suaranya tidak setajam tadi. Cecilia segera mengatur ekspresi wajahnya menjadi sedingin es. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Seingat saya, Bapak sedang sibuk berduaan dengan pacar Bapak." Darren menghela napas, dan mengabaikan sindiran itu. "Kathleen sudah pulang. Saya ke sini mau memberikan draf laporan yang tadi tertunda." Dia lalu menyerahkan sebuah map, tapi matanya menatap lekat ke wajah Cecilia. "Kamu ... wajah kamu pucat sekali. Maag kamu kambuh? Jangan sampe kamu masuk rumah sakit lagi." Cecilia menerima map itu tanpa menyentuh tangan Darren. "Bukan urusan Bapak. Saya hanya menjalankan tugas profesional saya sebagai sekretaris." "Cecil, jangan mulai lagi," potong Darren dengan nada frustrasi. "Saya tahu saya tadi keterlaluan, tapi kamu juga ti

