Rain terdiam merenung di samping rumahnya. Keheningan mewarnai suasana itu. Kegiatannya hampir sama setiap hari, hanya bisa merepotkan dengan menjadi manusia tak berguna. Terkadang Rain ingin sekali bekerja seperti dulu, tapi kembali lagi, mengingat kondisinya seluruh kepercayaan dirinya hilang kembali. Disela-sela keheningan itu, terlihat seorang pembantu rumah tangganya tergopoh-gopoh menghampirinya dengan membawa ponsel yang berdering. "Tuan Rain, maaf. Ponsel Anda sejak tadi berbunyi," ujar sang pembantu. Rain meliriknya, tatapan matanya memang tajam meski tak sedang marah membuat pembantunya cukup gemetar. Rain lalu mengambil ponsel itu dan mengalihkan pandangannya ke depan lagi. "Pergilah," titah Rain dingin. Terlihat nama My Pretty Wife di panggilan tak terjawab. Bibir Rain ter

