Adrian memarkir mobil hitamnya di depan gedung Faculty of Humanities. Udara pagi musim semi di Amerika membawa aroma kopi dari kafe kecil di seberang jalan. Pohon maple mulai menumbuhkan daun baru, dan cahaya matahari memantul di kaca-kaca tinggi gedung kampus. Vanila duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas berisi laptop dan map skripsi. Ia merapikan rambutnya yang disanggul sederhana, memastikan semuanya rapi sebelum turun. “Aku nggak bisa nungguin kamu sampai selesai,” kata Adrian sambil melirik jam tangannya. “Hari ini ada tamu penting dari Jepang, dan aku harus handle meeting di kantor.” Vanila menoleh. “Nggak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri.” Adrian menggeleng. “Nggak. Aku sudah minta sopir untuk jemput kamu nanti. Dia akan tunggu di parkiran belakang. Aku nggak mau kamu send

