Vanila berdiri di balkon kamar mereka, mengenakan kimono tipis berwarna putih s**u. Angin malam menggerakkan helaian rambutnya pelan, membawa aroma melati dari taman di bawah sana. Matanya menatap jauh ke arah langit gelap, berusaha menemukan titik terang di antara gugusan bintang. Tapi pikirannya masih penuh dengan hal-hal yang belum selesai, dan hatinya berat. Langkah kaki Adrian terdengar pelan di belakang. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya memeluk tubuh Vanila dari belakang, menariknya perlahan ke dalam kehangatan pelukan. “Aku tahu kamu belum bisa tidur,” ucapnya lembut di dekat telinga Vanila. Vanila mengangguk pelan. Ia bersandar ke d**a suaminya, membiarkan tubuhnya dilingkupi tangan yang selama ini menjadi perlindungannya. “Banyak yang aku pikirin,” bisiknya. “Tentang Tiara,

