“Oy, Aksa!” Panggilan dan lambaian tangan di depan sana membuat Aksa kembali melangkah. Sepulangnya dari rumah Cantika dia memang tak langsung pulang. Otaknya sedang mumet, rasanya dia butuh penyegaran malam ini. Aksa menghampiri kedua temannya yang sejak tadi sudah menunggu. “Lama banget, Sa? Baru pulang dari kampus?” Aksa duduk, kepalanya menggeleng. “Habis mampir ke rumah Cantika, ada urusan sedikit.” “Ah, iya, paham deh yang sebentar lagi mau nikah. Udah sampai mana progress kalian?” Aldo, salah satu teman Aksa bertanya. Mendapat pertanyaan itu Aksa mendelikan kedua bahunya. perihal batalnya pernikahan memang baru diketahui oleh keluarga saja. Dan ya, Aksa cukup kebingungan kali ini untuk menjawab. Rasanya dia bosan membahas hal ini. Karena kalau terus dibahas, dia tidak akan bisa

