“Pizza, Key.” Lamunan Keysha buyar. Mata gadis itu menatap sekotak pizza yang berada tepat di depan wajahnya. Tak lama tatapan Keysha beralih ke sang pengasih. Bukan mau menolak, tapi rasanya tangan Keysha sangat lemas untuk terangkat. Moodnya juga berantakan setelah menerima telepon dari ayahnya tadi. Karena Keysha tidak bereaksi Dina memilih langsung duduk di sampingnya. “Dari tadi gue liatin lo banyak ngelamun. Lagi ada masalah di kampus? atau pusing sama deadline tugas? Ngga biasanya lo diam begini, biasanya paling berisik.” Kepala Keysha merunduk, kedua tangannya saling bertaut. Bingung, itulah yang dia rasakan saat ini. Rasanya terlalu malas dan tentu sakit kalau harus menceritakan apa alasannya diam saat ini. Apakah diamnya malam ini sangat mencolok? “Key?” “Gue lagi bingung, K

